Pengantar

  • Hak seseorang (dan barangnya) berada di sembarang tempat di dunia (bahkan di luar angkasa) merupakan hak asazi manusia.
  • Ketidakmampuan negara dalam memfasilitasi pergerakan warganya berarti kegagalan sistem transportasinya.
  • Dampak kegagalan transport: distorsi-distorsi perkembangan suatu kota/daerah, inefisiensi ekonomi urban atau bahkan kerugian (diseconomy), isu-isu ketidaksepadanan (inequality) berakibat pada masalah sosial: kemiskinan (urban/rural poverty) maupun kecemburuan sosial – kriminalitas.

Kegagalan Transportasi

  • Kegagalan transportasi di negara berkembang akibat lemahnya perencanaan kota/wilayah – sektor transport merupakan kendaraan”.
  • Rendahnya keselamatan kegagalan paling serius. Kerugian akibat kecelakaan di negara berkembang 2,5% – 4% dari GDP (Rp 30~48 trilliun/th utk Indonesia).
  • Beban tak terdistribusi rata – berat ke kaum berpendapatan rendah. Korban terutama pengguna sepeda motor, sepeda, becak, pejalan kaki dan angkutan umum. Kemiskinan tetap menjerat kaum berpenghasilan rendah: sistem transport tidak mampu melindungi mereka.
  • Kegagalan penyediaan prasarana transport berakibat mahalnya biaya transportasi.  Prinsip “yang kuat-menang” akan berlaku.
  • Kegagalan penyediaan angkutan umum berkualitas menyebabkan kerugian bagi penggunanya.
  • Penyediaan sarana, prasarana dan sistem operasi transportasi menerapkan standar manusia normal sebagai referesinya. Kesulitan dialami mereka dg kemampuan fisik berbeda (diffabel).
  • Kegagalan pengendalian demand dan kemacetan menjadi sesuatu yang jamak.
  • Demand tak terkendali menyebabkan polusi udara dan suara. Terjadi transfer beban masyarakat. Pollters get away teradi. Isu ketidakadilan menjadi serius.
  • Trasport seolah membelenggu kelompok masarakat lemah fisik dan finansial.

Fakta-fakta

  • Pendekatan ekonomi belum banyak diterapkan dalam peraturan dan pengaturan transportasi. Banyak dikembangkan prinsip liberal seperti barang privat. Yang kuat menang Prinsipnya “transport untuk semua insan hidup” (bahkan mati!).
  • Penggunaan kendaraan pribadi sangat tak efisien: ruang jalan, energi serta tingginya polusi per kapita. Jalan, fasilitas transport bertujuan memindahkan orang (dan barang) seoptimal mungkin – bukan sebanyak mungkin kendaraan.
  • Banyak taksi atau mobil pribadi kosong sementara banyak orang tak terangkut: ekonomi tidak optimum.
  • Banyak pengguna angkutan umum tak memiliki pilihan lain (captive).

Strategi-strategi

  • Transportasi untuk semua: peranan pemerintah dan publik menjadi sentral.
  • Beberapa fenomena perlu dipikirkan bersama secara mendalam:
  1. Fasilitas transportasi (jalan/kendaraan) harus digunakan sebesar-besarnya memindahkan orang (dan barang) dan bukan   pergerakan kendaraan.
  2. Fasilitas transportasi harus bisa diakses oleh semua.
  3. Budaya ono rego ono rupo tidak selamanya cocok untuk pengembangan sektor transportasi.
  4. Transport adalah public goods.
  • Transportasi untuk semua: seluruh sumber daya perlu digalang untuk memfasilitasi seluruh warga.
  • Beberapa kemungkinan: (1) pendapatan dari pajak kendaraan untuk perbaikan jalan dan peningkatan angkutan umum; (2) pendapatan parkir (membuat “jalan” menjadi “berhenti”) diarahkan membuat yg “berhenti” menjadi “jalan” spt subsidi bagi yg lemah;  (3) yang menyebabkan kemacetan harus membayar congestion price.

_____________ ini adalah tulisan Dosen Saya: Dr. Heru Sutomo, disharing disini untuk semua.

Advertisements