Emang udah nasib saya kale untuk selalu melawan arus (lalu lintas). Dari pertama kerja di surabaya tahun 1997, mudik ke Bekasi sementara orang mudik dari arah Jakarta ke Surabaya. 3 tahun kerja di Surabaya terus kuliah lagi di Bekasi, sementara semua orang mudik naek mobil ke arah utara, saya sendirian mudik ke arah selatan naek ojek. Lulus kuliah di Bekasi terus kuliah di Yogya, sementara orang mudik dari arah Jakarta ke Yogya, saya kebalikannya dari Yogya ke arah Bekasi. Mudik lebaran sekarang pun sama: sementara orang-orang dari Jakarta ke arah Jateng/Jatim, saya kebalikannya dari Bandung ke Bekasi, alhasil saya hanya bisa ndenger ceritanya aja kalo mudik itu macet, rame, sibuk, dll dsb, lha wong sampe detik ini saya belom pernah merasakan mudik ribet seperti itu. Perjalanan mudik saya kemaren hanya memakan waktu perjalanan 1.5 jam dengan sesekali kecepatan 140 km/jam.

Pas baliknya juga sama, sekalipun saya masih barengan sama orang2 yg mudik telat (mudiknya abis lebaran) dan berbaur dengan lalu lintas pengguna jalan yg silaturahmi dan bertamasya bersama keluarga, saya tetep kebagian jalur lancar karena dari pintu tol cikarang barat sampe km 60 tol cikampek diberlakukan contra flow dan saya kebagian lajur kanan, jadi sekali lagi ngga kena macet. Sesekalinya kena macet itu bukan macet di jalan tapi macet di antrian rumah makan ibu haji ciganea dan sampe ngga kebagian nasi dan akhirnya makan di restoran korea di sebelahnya. Dan tetep asik2 aja karena saya liat anak2 saya pada doyan makan masakan korea.

Satu hal yg membuat saya amat “sedih” adalah melihat kondisi masyarakat saya di Bekasi (saya dari SD sampe jadi tukang sarjana sekolah di Bekasi udik). Saya masih inget, sampe zaman saya SMA (tahun 92an), saya masih bisa menikmati makanan dari hasil bumi, hasil kerja masyarakatnya. Saya suka minum es campur ketimun suri kalo buka puasa, makan rambutan, salak, duren dan itu musimnya pas (hampir) bersamaan dengan hari raya lebaran. Sekarang? Boro2! Makanan yg dihilangkan adalah makanan2 kaleng dan bungkusan yg dibeli dari supermarket atau sejenisnya, satu2nya hasil bumi yg saya makan lebaran ini adalah ketimun, itu juga ngga tau siapa yg nanem karena hampir ngga ada generasi muda yg jadi petani karena sawah dan kebun nya juga habis digusur jadi kawasan industri dan pemuda/i nya mayoritas pada jadi karyawan pabrik! Ada satu dua yg cari peruntungan jadi politikus, ada yg sukses ada yg gagal.. dan saya menghormati segala upaya temen2 saya.

Mungkin karena emang nasib saya lagi yg melawan arus tadi hingga saya sedih sementara yg lain bahagia. Saya liat masyarakat pada seneng hilir mudik di mall, jalan2 kesana kemari sampe khabar kemacetan lalu lintas ada dimana-mana dari berita televisi, radio sampe grup whattsap. Kita pada seneng cekakak cekikik ketawa ketiwi sementara makin kesini kita makin ngga punya apa-apa. Kita berbahagia dalam kondisi kita makin jauh tertinggal dan tertindas. Kita bersenang-senang dalam ketidakmengertian… dalam kondisi seperti ini saya rasakan betapa puisi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo begitu mengena:

“Sungguh Jaka tak mengerti
Mengapa ia dipanggil ke sini.
Dilihatnya Garuda Pancasila
Tertempel di dinding dengan gagah.

Dari mata burung Garuda
Ia melihat dirinya
Dari dada burung Garuda
Ia melihat desa

Dari kaki burung Garuda
Ia melihat kota
Dari kepala burung Garuda
Ia melihat Indonesia

Lihatlah hidup di desa
Sangat subur tanahnya
Sangat luas sawahnya
Tapi bukan kami punya

Lihat padi menguning
Menghiasi bumi sekeliling
Desa yang kaya raya
Tapi bukan kami punya

Lihatlah hidup di kota
Pasar swalayan tertata
Ramai pasarnya
Tapi bukan kami punya

Lihatlah aneka barang
Dijual belikan orang
Oh makmurnya
Tapi bukan kami punya”….

19247868_234120877093187_8652942733447592428_n

Advertisements