Dunia otomotif geger. Dia yang bukan siapa-siapa tiba-tiba bisa menjadi salah satu “raksasa” otomotif di Amerika Serikat. Sejarah perjalanan perusahaannya pun sama sekali bukan sebagai perusahaan otomotif, tetapi hanya sebagai pabrik penghasil batere alias aki. Baru didirikan pada tahun 2003 dan baru menghasilkan mobil pertamanya pada tahun 2008, Tesla Inc., sekarang sudah memiliki nilai valuasi lebih besar dibandingkan dengan Chrysler, General Motors dan Ford Motor Company, raksasa otomotif Amerika yang terkenal dengan nama Detroit’s Big 3.

Mobil listrik sebenarnya sudah memiliki sejarah yang panjang. Konsep mobil listrik  sebenarnya sudah dicita-citakan sejak Thomas Alva Edison menemukan listrik di tahun 1879. Tapi gara-gara keterlambatan perkembangan tehnologi batere, maka produksi massal mobil listrik tetap hanya menjadi cita-cita sejak dulu yang tidak pernah terwujud sampai Nissan mengeluarkan mobil listriknya yang pertama, Nissan Leaf, sebanyak 200 unit di tahun 2003. Yang justru berkembang selama ini dan banyak dikembangkan oleh raksasa-raksasa otomotif dunia adalah mobil hybrid, yaitu mobil dengan kombinasi  bahan bakal fosil dengan mobil listrik.
Tiba-tiba Tesla menyalip di tikungan. Dengan mengandalkan keunggulan yang dimilikinya, yaitu tehnologi batere, Tesla meluncurkan produk perdananya, yaitu Tesla model Roadster. Ini adalah mobil listrik 100% yang bisa melaju dengan kecepatan maksimal 200 km/jam dan menempuh jarak 360 km dalam sekali pengisian batere. Penjualan produk ini sebenarnya hanya sebanyak 2.250 unit, tetapi terobosan tehnologi ini benar-benar menghebohkan. Apalagi ketika Tesla meluncurkan Tesla model S, yaitu varian berbentuk sedan kelas atas di tahun 2012. Total penjualan unitnya di tahun 2016 mencapai hanya 80.000 kendaraan, tetapi ini mampu mengerek nilai perusahaan Tesla mencapai USD 30 miliar di akhir 2016, atau mendekati nilai perusahaan GM dan Ford. Padahal total penjualan GM di tahun yang sama adalah 10 juta unit, dan Ford sebesar 17.5 juta unit. Artinya total penjualan mobil Tesla sepanjang tahun 2016 masih sangat kecil, atau setara dengan hanya rerata penjualan GM selama 2,8 hari, atau penjualan Ford selama 1,6 hari.
Kalau ditinjau dari kinerja keuangannya juga ditemukan angka yang menarik. Total penjualan GM di tahun 2016 adalah sebesar USD 166 miliar dan berhasil membukukan keuntungan sebesar USD 9.43 miliar. Total penjualan Ford di tahun yang sama adalah 151.8 miliar dengan membukukan keuntungan sebesar USD 11 miliar. Sementara total penjualan Tesla hanya USD 7 miliar, lebih rendah dari total keuntungan Ford atau GM, dan bahkan Tesla mengalami kerugian sebesar USD 770 juta.
Belum selesai dengan gebrakan pertama, Tesla meluncurkan inovasi lanjutan yang lebih dramatis. Di tahun 2017 ini Tesla meluncurkan varian mobil kecil, yaitu Tesla model 3 dan varian SUV mewah, yaitu Tesla model X. Kedua model ini dilengkapi dengan tehnologi auto-drive (swa supir) generasi kedua yang menggunakan 8 buah kamera dan mengandalkan sensor berbasis radar yang mampu berjalan tanpa campur tangan pengemudi sama sekali. Ibaratnya kita cukup berdiri di lobby mall dan mobilnya akan datang sendiri, membuka pintu secara otomatis dan mengantar kita sampai ke tujuan. Begitu sampai kita tinggal turun, dan mobilnya akan mencari parkir sendiri dan mengunci dirinya sendiri secara otomatis.
Di samping itu Tesla juga mengembangkan tehnologi pengisian batere. Kalau sebelumnya membutuhkan waktu 4-6 jam untuk proses pengisian batere, sekarang dengan tehnologi Tesla super-charger hanya dibutuhkan waktu pengisian 60 menit untuk bisa melaju sejauh hampir 500 km. Pada kedua model baru ini, ukuran batere juga sudah jauh lebih kecil, sehingga berat total mobil bisa dikurangi dan mobil bisa beroperasi secara lebih efisien. Tesla model X juga dilengkapi dengan pintu “batman” yang membuka ke atas seperti pada mobil sport papan atas. Sedangkan Tesla model 3 sangat diuntungkan oleh subsidi yang diberikan pemerintah Amerika sebesar USD 7.500 untuk setiap pembelian mobil listrik. Dengan patokan harga sebesar USD 35.000 sebelum subsidi, antrian mengular dari para pembeli, persis seperti kalau Apple  meluncurkan iPhone barunya. Pesanan awal sebanyak 400.000 unit yang rencananya baru akan diluncurkan pada tahun 2018 ludas dalam kurun waktu 7 hari.
Dampaknya luar biasa. Hanya dalam waktu 6 bulan, nilai perusahaan Tesla sudah melampaui GM, Ford bahkan BMW. Nilai perusahaan Tesla saat ini (Juli 2017) adalah USD 62,8 miliar, sementara GM hanya USD 50,8 miliar, Ford USD 45.1 miliar dan BMW sebesar USD 61.3 miliar. Beberapa analis meramalkan bahwa awal tahun depan, nilai perusahaan Tesla akan melampaui VW dan Daimlers yang ada di kisaran USD 80 miliar. Fenomena ini sekaligus mendukung masa suram industri otomotif tradisional, yang rerata nilai PER nya hanya sebesar 10, lebih rendah dibandingkan dengan rerata nilai PER perusahaan yang tergabung dalam S&P 500 sebesar 20. Nilai PER yang rendah ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan investor terhadap industri otomotif tradisional sudah jauh menurun dibandingkan dengan industri lain. Sementara Tesla sendiri belum memiliki nilai PER, karena Earning-nya masih negatif.
Yang menjadi pertanyaan menarik adalah bagaimana mungkin perusahaan “kecil” mampu memiliki nilai perusahaan yang sedemikian besarnya dalam waktu yang sangat singkat. Akankah Tesla menjadi seperti Apple di industri ponsel pintar? Sejarah membuktikan bahwa di tahun 2007 ketika Apple pertama kali meluncurkan produk ponsel pintarnya, total penjualannya hanya sekitar 4 juta unit. Sementara raksasa ponsel saat itu, Nokia, menguasai pasar dengan total penjualan 400 juta unit. Hanya dalam waktu 10 tahun, Apple mampu menguasai 22% pangsa pasar ponsel pintar dunia dan menjadi perusahaan yang memiliki keuntungan tertinggi di industri ponsel, sementara Nokia bahkan kehilangan sama sekali bisnisnya di bidang ponsel. Pada tahun 2007, Apple memutuskan untuk mengganti nama perusahaannya dari Apple Computer menjadi Apple Inc. setelah berhasil menggeser bisnis intinya dari sekedar penjual komputer menjadi penjual ponsel pintar. Kontribusi penjualan komputer Mac saat ini hanya sebesar 11%, jauh di bawah kontribusi pendapatan dari iPhone dan iPad sebesar 70%. Langkah serupa ternyata diikuti oleh Elon Musk, CEO Tesla, yang mengganti nama perusahaannya dari Tesla Motor menjadi Tesla Inc. Hal ini sejalan dengan misi Musk bahwa Tesla bukan hanya akan menjadi produsen mobil listrik, tetapi mimpinya jauh lebih besar lagi, yaitu “accelerating the advent of sustainable energy, so that we can imagine far into the future and life is still good.”
Berbeda dengan Uber yang masih merupakan perusahaan privat, Tesla adalah perusahaan publik yang harga sahamnya diperdagangkan di bursa efek dengan kode saham TSLA. Sebagai perusahaan publik, Tesla memiliki kewajiban untuk melaporkan kinerja perusahaannya dan laporan ini bisa diakses oleh semua pihak yang berkepentingan. Kenaikan harga saham perusahaan yang berarti adalah kenaikan nilai valuasi perusahaan yang sangat fantastis jelas mencerminkan keyakinan investor akan masa depan perusahaan. Investor yakin bahwa Tesla akan mendominasi industri otomotif di masa mendatang, sama seperti Apple mendominasi industri ponsel pintar.
Persoalannya adalah banyak teka-teki yang masih harus dijawab di industri otomotif. Ibarat sebuah perjalanan panjang, industri otomotif saat ini ada di beberapa persimpangan jalan yang akan menentukan masa depan industri ini. Persimpangan adalah antara driven (dikemudikan sendiri) vs. auto drive (swa supir), mobil listrik vs. mobil berbahan bakar fosil atau hybrid, dan kepemilikan mobil secara share vs. private. Ketiga persimpangan ini akan menentukan masa depan industri otomotif.
Persimpangan yang pertama, yaitu antara mobil yang dikemudikan (driven) vs. auto drive (swa supir). Kelihatannya di negara maju, perkembangan mobil akan mengarah pada mobil auto drive (swa supir). Ini adalah sebuah keniscayaan, walaupun masih sulit untuk dibayangkan bagaimana kondisi jalan raya yang didominasi oleh mobil-mobil swa supir yang bersliweran. Banyak analis, termasuk Boston Consulting Group meramalkan bahwa tingkat kecelakaan di jalan raya akan menurun hingga 90% dengan memanfaatkan tehnologi swa supir.
Baru-baru ini Business Insider Intelligent mengeluarkan laporan yang memprediksi bahwa dalam 10 tahun mendatang akan ada sekitar 10 juta mobil swa supir di Amerika. Jumlah ini sebenarnya masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah mobil yang ada di Amerika, yaitu sebesar 240 juta unit. Tetapi pertumbuhan mobil swa supir jauh lebih pesat dibandingkan dengan mobil yang dikemudikan secara manual. Sebenarnya dari sisi tehnologi, Ford adalah yang paling unggul dalam perkembangan tehnologi kendaraan swa supir, diikuti oleh GM, Renault – Nissan dan Daimlers. Sementara Tesla sendiri hanya menduduki urutan ke 14. Tetapi peluncuran Tesla model 3 dan Tesla model X yang 100% swa supir, mendapatkan tanggapan yang positif dari pasar. Sementara para pemain tradisional masih lebih menawarkan varian mobil yang dikemudikan secara manual. Kondisi ini mirip dengan Apple di tahun 2007 yang diremehkan oleh para pesaingnya, karena memang pada saat itu tidak memiliki keunggulan di bidang tehnologi ponsel pintar. Tetapi ternyata keadaan berbalik, hanya dalam kurun waktu yang sangat pendek. Dan kini investor melihat sebuah metafora bahwa Tesla adalah Apple, sementara mobil swa supir adalah iPhone di tahun 2007.
Persimpangan kedua, antara mobil listrik vs. mobil berbahan bakar fosil atau mobil hybrid. Dengan semakin murahnya harga batere, kecepatan waktu pengisian ulang batere dan semakin jauhnya jarak tempuh mobil listrik maka tampak jelas bahwa masa depan mobil listrik akan jauh lebih cerah dibandingkan dengan mobil yang menggunakan bahan bakar fosil. Apalagi hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah Amerika yang memberikan subsidi sebesar USD 7.500 untuk setiap pembelian mobil listrik, serta dispensasi yang diberikan pada pengemudi mobil listrik untuk melewati lajur khusus car pool (jalur khusus yang hanya boleh dilewati oleh kendaraan dengan minimal 2 penumpang di dalamnya), jelas ini akan memicu penjualan mobil listrik di masa mendatang.
Dalam hal ini Tesla memiliki keunggulan dibandingkan dengan para produsen otomotif tradisional. Bahkan Tesla telah membangun pabrik raksasa di Nevada yang memproduksi batere berbahan lithium-ion yang memiliki kapasitas lebih besar dan harga yang jauh lebih murah. Sementara pesaingnya masih berkutat dengan mobil berbahan bakar fosil atau mobil hybrid, yaitu kombinasi antara bahan bakar fosil dan listrik. Beberapa produsen mobil lain, di antaranya seperti General Motors dan Honda mencoba mengembangkan mobil ramah lingkungan berbahan bakar hidrogen. Tetapi jelas ini bukanlah keputusan yang tepat mengingat sampai saat ini di seluruh daratan Amerika hanya ada 34 stasiun pengisian bahan bakar hidrogen, di mana separuh di antaranya ada di negara bagian California. Para pemain tradisional otomotif memang juga memproduksi dan menjual mobil listrik, tetapi jumlahnya sangat kecil dibandingkan dengan mobil konvensional yang mereka jual. Ini jelas menunjukkan komitmen mereka yang rendah terhadap pengembangan tehnologi mobil listrik. Jadi dalam hal tehnologi mobil listrik jelas Tesla memiliki keunggulan, persis seperti Apple yang memiliki keunggulan iPhone dengan sistem operasi IOS dan penguasaan kanal distribusi melalui Apple Store.
Persimpangan ketiga adalah kepemilikan mobil yang bersifat pribadi vs. kepemilikan bersama, seperti dalam kasus Uber yang menggunakan konsep ekonomi berbagi. Ini sebuah persimpangan yang masih sangat sulit untuk diramalkan. Kalau kepemilikan mobil masih seperti saat ini, di mana mobil adalah aset pribadi seseorang, maka masa depan mobil-mobil mewah masih akan cerah karena mobil mewah sekaligus adalah simbol status bagi penunggangnya. Tetapi kalau masa depan mobil nantinya adalah didasarkan pada konsep ekonomi berbagi, di mana kita bisa menunggang mobil apa saja yang tersedia melalui aplikasi online, terutama untuk jarak dekat, maka jalanan akan didominasi oleh mobil-mobil standar. Orang tidak akan perduli soal kemewahan, selama mobil standar yang tersedia aman, efisien dan memberikan kenyamanan minimum. Kita bisa memakai mobil apa saja yang tersedia di dekat kita dengan aplikasi online. Sama seperti kita naik kendaraan umum atau transportasi publik, tetapi ini jenisnya adalah kendaraan pribadi.
Kalau benar ini yang akan mendominasi sistem pemakaian mobil di masa mendatang, maka bisa diramalkan bahwa seluruh industri otomotif, termasuk Tesla, akan mengalami masa suram. Mengapa? Karena jumlah mobil yang dibutuhkan hanya sekitar 10% dari jumlah mobil saat ini. Keuntungannya adalah jalanan menjadi lebih lenggang dan lancar. Tentu saja tingkat polusi dan kebisingan akan jauh lebih menurun dan tingkat kecelakaan akan lebih kecil lagi.
Di samping ketiga persimpangan yang sudah dibahas di atas, ada dua hal lagi yang menentukan masa depan Tesla. Pertama soal tehnologi batere. Jelas dalam hal ini Tesla memiliki keunggulan. Tetapi yang menarik adalah keputusan Elon Musk di akhir tahun 2015 yang mengijinkan tehnologi batere Tesla ditiru dan dikembangkan lanjut oleh siapa saja, termasuk pesaingnya, as far as it’s for a good faith. Musk tidak pernah menjabarkan dengan bening apa yang dia maksudkan dengan “for a good faith”. Tetapi dalam blog pribadinya Musk berjanji tidak akan mengajukan gugatan terhadap siapapun yang meniru tehnologinya. Di satu sisi keputusan ini akan semakin mendorong perkembangkan tehnologi batere, sehingga pada gilirannya akan membuat tehnologi batere lebih cepat mencapai skala ekonomisnya dan mendorong pertumbuhan mobil listrik. Tetapi di sisi yang lain, ini sekaligus menghapus keunggulan tehnologi yang selama ini dimiliki oleh Tesla terhadap pesaingnya. Banyak pihak yang menganggap keputusan ini “sesat”, tetapi sebagian analis menganggapnya sebagai keputusan yang “jenius”. Elon Musk tentu tidak akan membiarkan keunggulannya hilang begitu saja. Dia pasti sudah melakukan inovasi baru dan memiliki tehnologi lain yang lebih maju yang akan digunakan sebagai sumber keunggulan bersaing bagi Tesla di masa mendatang.  
Kedua adalah momentum. Dua tahun ini adalah tahun penentuan bagi Tesla. Ada tiga lawan yang harus dihadapi oleh Tesla secara bersamaan. Lawan pertama adalah para raksasa otomotif saat ini yang pasti tidak tinggal diam melihat pasarnya digerogoti oleh Tesla. Mereka punya kemampuan sumber daya yang luar biasa besar dan kematangan sebagai perusahaan yang kebanyakan usianya sudah menjelang satu abad. Lawan kedua adalah banyak perusahaan-perusahaan rintisan baru yang juga ingin ikut ambil bagian dalam persaingan. Ini jelas akan mengganggu kesendirian Tesla. Yang ketiga dan yang paling berat adalah melawan dirinya sendiri. Sejarah mencatat bahwa kegagalan terbesar bagi perusahaan rintisan (start-up company) adalah ketika memasuki fase pembiakan agar produksinya bisa mencapai skala ekonomis. Tantangan terbesarnya adalah mengelola peningkatan kompleksitas opersional yang sedemikian drastis dari sekedar perusahaan rintisan menjadi perusahaan besar. Salah satu contoh yang fenomenal adalah runtuhnya BlackBerry yang gagal mengelola dirinya ketika menghadapi pertumbuhan organisasi yang sangat pesat.
Bagi Tesla memenuhi janji untuk memproduksi 400.000 unit kendaraan model 3 yang harus bisa diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun bukan pekerjaan yang mudah bagi perusahaan yang selama ini hanya memproduksi 100.000 unit. Peningkatan empat kali lipat skala produksi adalah tantangan tersendiri. Dibutuhkan sistem pengelolaan rantai pasok suku cadang yang benar-benar bisa diandalkan. Kekurangan satu jenis saja suku cadang vital, bisa menunda keseluruhan dari produksi kendaraan. Belum lagi penerapan tehnologi swa supir yang benar-benar baru akan mengeskalasi tingkat kesulitan yang semakin kompleks. Kegagalan dalam memenuhi janji produksi akan menjadi kampanye negatif yang akan menghancurkan reputasi perusahaan. Dan hal ini tentu akan dimanfaatkan oleh para pesaing raksasanya untuk bertepuk sorak sambil mendorong sang debutan ke jurang yang lebih dalam. Sebaliknya keberhasilan Tesla melewati fase ini akan melapangkan jalannya menjadi raksasa yang sebenarnya. Waktulah yang akan menjadi hakim yang sebenarnya.

 

Dr. Harris Turino

Dosen Tetap IPMI International Business School

Advertisements