Taksi Konvensional

Penentuan jumlah taksi di suatu kota bisa menggunakan rumus sebagai berikut:

JT = JP x FK x SU

dengan :
JT : jumlah taksi (dalam satuan)
JP : jumlah penduduk (dalam ribuan)
FK : fungsi kawasan (tergantung kepada nilai PKN, PKW, PKL, PKK)

SU : sektor unggulan (tergantung kepada nilai kelompok sektor)

Fungsi Kawasan Perkotaan ditinjaun dari aktifitas kota:

  • Pusat Kegiatan Nasional
  • Pusat Kegiatan Wilayah
  • Pusat Kegiatan Lokal
  • Pusat kegiatan Khusus

Nilai atau bobot untuk PKN = 1

Nilai atau bobot untuk PKW =0,5
Nilai atau bobot untuk PKL dan PKK = 0,33

 

Sektor Unggulan , kegiatan utama yang mendukung perekonomian kota

  • Kelompok I : Jasa dan Perdagangan
  • Kelompok II : Pariwisata
  • Kelompok III : Industri dan Pertanian

Sektor unggulan

Contoh Perhitungan Kota Bandung:

jumlah penduduk Kota Bandung 2,4 juta jiwa, jadi JP dalam ribuan= 2400

Kota Bandung adalah Pusat Kegiatan Nasional, jadi FK=1

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung adalah dari pajak hotel dan restoran, anggap sektor unggulan Kelompok I (Jasa dan Perdagangan), lihat tabel diatas, SU=1

JT = JP x FK x SU = 2400 x 1 x 1 = 2400 kendaraan

Ada juga cara perhitungan lain seperti yang dipakai oleh Direktorat Bina Sistem Transportasi Perkotaan Kementerian Perhubungan dengan mempertimbangkan kemungkinan pembangkit kebutuhan taksi seperti keberadaan bandara, rumah sakit, hotel, pusat perbelanjaan/mall. Cara ini biasanya dengan menurunkannya menjadi model estimasi kebutuhan taksi seperti persamaan berikut :

 

y = 0,59 (pddk/1000) + 0,1752 (pnpBdr/365) + 0,07483 (PnpKA/365) + 0,184 jlmRS +0,087 JmlHtl + 0,052 JmlMall + 5

Jumlah penduduk Kota Bandung adalah 2.364.312 Kota Bandung jiwa, jumlah penumpang bandara 358.705, jumlah penumpang kereta api 166.159, jumlah rumahsakit 27, jumlah hotel 210, jumlah mall/pusat perbelanjaan 28, maka diestimasikan jumlah kebutuhan taksi adalah 1.631 kendaraan. 

Dua metode perhitungan menghasilkan angka yang berbeda, untuk mudahnya kita anggap saja kebutuhan taksi di Kota Bandung minimal adalah 1.631 kendaraan dan maksimal adalah 2400 kendaraan <– ini boleh diperdebatkan tapi sementara anggap saja begitu 🙂

Jumlah taksi yang beroperasi dan terdaftar di Kota Bandung adalah 1906 kendaraan (sumber), dibandingkan dengan maksimal kebutuhan taksi yang 2400 kebutuhan maka masih ada kekurangan 2400 – 1908= 492 kendaraan. (apakah kekosongan ini dianggap kekosongan yang bisa diisi oleh taksi online??)

_______________________

Taksi online

Istilah “taksi online” tidak bisa ditemukan dalam aturan seperti dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor PM 26 yang sedang direvisi karena angkutan taksi semisal grab dan uber dikategorikan dalam angkutan sewa khusus. Dalam tulisan ini disebut taksi online untuk memudahkan pemahaman kita saja (karena saya yakin kalo kita tanya ke masyarakat tentang angkutan sewa khusus, kebanyakan ngga faham apa sih angkutan sewa khusus dan dikhususkan kepada siapa atau untuk apa).

Saya belum menemukan perhitungan kebutuhan taksi online yang dilakukan oleh Operator seperti Grab atau Uber, yang saya tau operator taksi online sampai saat ini tidak membatasi keanggotaannya, atau dengan kata lain operator tidak menghitung berapa kebutuhan kendaraannya, menyesuaikan permintaan pasar saja, kalau sudah jenuh tokh orang akan berhenti mengajukan pendaftaran untuk jadi pengemudi taksi online (???).

grab

Kita simpan saja análisis kelayakan usaha taksi online untuk pembahasan berikutnya, saat ini kita coba hitung kebutuhan taksi online dengan cara saya sendiri yakni mempertimbangkan kepemilikan kendaraan dan pelayanan angkutan umum yang sebelumnya telah tersedia sebagai berikut:

D = (P – KP – K.au)/ AO

dengan:

D= kebutuhan taksi online

P= Penduduk potensial melakukan perjalanan

KP= Kepemilikan kendaraan pribadi

K.au = Kapasitas Pelayanan Angkutan Umum

AO= jumlah rit minimal per taksi on line per hari mempertimbangkan keuntungan pemilik angkutan online

P = anggap 70% dari jumlah penduduk, jadi 0,7 x 2.364.312= 1.665.018 orang yang membutuhkan transportasi.

KP= 1.349.327 kendaraan (mobil pribadi 318.598, sepeda motor 1.030.729, data dari BPS Kota Bandung 2015)

K.au = 77.570 + 158.300 + 14.104+19.060 =269.034 (7.757 angkot kapasitas 10, 3166 bus kapasitas 50, 14.104 ojek kapasitas 1, taksi 1906 kapasitas 10 rit)

AO = anggap cicilan kendaraan kendaraan Rp 5jt, minimal pemasukan per hari Rp 200ribu, dengan rata-rata tarif Rp 20ribu maka per kendaraan minimal 10 rit per hari.

jadi D= (1.665.018 – 1.349.327 – 269.034)/ 10 = 4.666 kendaraan!

Sampai saat ini operator taksi online belum melaporkan jumlah kendaraan yang terdaftarnya kepada pemerintah namun pada saat demontrasi di Gedung Sate terungkap bahwa sudah +6000 mobil yang terdaftar pada satu aplikasi angkutan online. dengan kondisi ada beberapa aplikasi yang tersedia (grab, uber, go-jek) maka  sangat mungkin bahwa pasar taksi online di Kota Bandung saat ini sudah jenuh dan kurang menguntungkan

Wallahu alam, jika salah silakan dikoreksi jika ada benarnya silakan dimanfaatkan. terima kasih 🙂

Bandung, 23 Okt, 2017, Dr. Karda dy

__________

Berikut perhitungan kuota taksi versi Kementerian Perhubungan:

Advertisements