Pangsa pasar angkutan umum sudah turun drastis sejak beralihnya penumpang ke kendaraan pribadi (terutama sepeda motor). Operator angkutan umum yang mayoritas perorangan dengan manajemen “warung kopi” menghadapi kondisi yang makin hari makin sulit, luar biasanya sampai saat ini masih ada (banyak) angkutan umum yang bisa bertahan hidup (survive), dan taukah kita apa saja yang dilakukan operator angkutan umum untuk bertahan hidup:

  1. hanya mengoperasikan kendaraan pada waktu sibuk;
  2. ngetem (menunggu penumpang sampai penuh) baru jalan;
  3. menurunkan penumpang sebelum tujuan perjalanan jika penumpang sedikit;
  4. menaikan tarif;
  5. tidak merawat kendaraan dengan harapan meminimalkan biaya.

Entah dengan kesadaran entah tidak, upaya-upaya diatas dilakukan sejak lama, bahkan dari sebelum penumpangnya berbondong-bondong membeli sepeda motor yang bisa dikredit dengan harga murah.

Dan siapa sangka “teknik kuno” angkutan umum ini dapat (dan sudah mulai) dipraktekan oleh operator taksi online! nah loh! perhatikan bahwa dengan ketatnya persaingan antar operator angkutan online yang mayoritas perorangan plus persaingan dengan operator angkutan lain (taksi conventional, angkot), mereka pun bisa memilih untuk hanya beroperasi pada waktu-waktu tertentu yang banyak permintaan (misal bubaran mall) atau nunggu orderan dekat lokasi-lokasi pembangkit perjalanan (misal pusat perbelanjaan, hotel), dan akibatnya banyak parkir kendaraan angkutan online di sisi jalan! habis bensin kalo angkutan online kelalang-keliling terus nyari penumpang khan? 😉

Advertisements